PISA 2025: Skor Indonesia Membaik, tetapi Jarak dengan Rata-Rata Dunia Masih Lebar

(Edi Rahmat Widodo & Esti Purnawinarni)

Hasil PISA 2025 yang dirilis OECD memberikan gambaran terbaru tentang kualitas pembelajaran siswa Indonesia berusia 15 tahun. Ada perkembangan positif yang patut diapresiasi: skor Indonesia meningkat di hampir seluruh domain dibandingkan dengan hasil PISA 2022. Namun, capaian tersebut belum cukup untuk mengejar rata-rata internasional. Tantangan yang lebih mendasar, sebagian besar siswa Indonesia masih belum mencapai tingkat kompetensi dasar yang diharapkan.

Skor dan Peringkat: Naik, Tapi Belum Cukup

Dari empat domain yang diuji dalam PISA 2025, tiga menunjukkan perkembangan positif dibandingkan dengan 2022. Skor sains meningkat dari 383 menjadi 389, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-73 dari 91 negara dan ke-6 dari 8 negara ASEAN. Pada domain membaca, skor naik dari 359 menjadi 365, dengan peringkat ke-74 dari 90 negara dan ke-7 dari 8 negara ASEAN.


Sementara itu, skor matematika sedikit menurun, dari 366 menjadi 364. Indonesia berada di peringkat ke-78 dari 90 negara dan menempati posisi terakhir di antara delapan negara ASEAN. Adapun Computational Problem Solving, yang baru diperkenalkan dalam PISA 2025, mencatat skor 427 dan menempatkan Indonesia pada peringkat ke-62 dari 85 negara.


Data ini menunjukkan adanya kemajuan di sejumlah bidang, tetapi juga menegaskan bahwa peningkatan skor belum sepenuhnya berbanding lurus dengan posisi Indonesia dalam perbandingan internasional.

Matematika menjadi satu-satunya domain utama yang mengalami penurunan skor. Sementara itu, skor rata-rata OECD untuk tiga domain utama berada pada kisaran 461โ€“482 poin. Dengan demikian, kesenjangan capaian Indonesia terhadap rata-rata OECD masih cukup lebar, yakni sekitar 90โ€“100 poin. PISA 2025 sendiri diikuti oleh lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan wilayah peserta, yang mewakili kurang lebih 33 juta remaja berusia 15 tahun di seluruh dunia.

Gambar 1. PISA 2025 Indonesia

Potret Lengkap: Kemajuan Nyata dan Tantangan yang Masih Besar

Di balik angka-angka itu, ada beberapa temuan yang membentuk gambaran lebih utuh yang mencakup perubahan arah perkembangan skor, status mayoritas siswa Indonesia, faktor kesenjangan ekonomi, gender, sinyal motivasi belajar, dan kepedulian lingkungan.

Perubahan arah dari OECD. Dari data PISA Tahun 2025 ini terlihat adanya perubahan arah perkembangan dimana pada domain Sains (+6) dan Membaca (+7) Indonesia mengalami kenaikan, sementara rata-rata OECD justru mengalami penurunan (-3 dan -14). Ini artinya kenaikan Indonesia bukan sekadar mengikuti tren global, melainkan merupakan perbaikan riil di tengah kecenderungan dunia yang melambat.

Gambar 2. PISA 2025, Potret hasil belajar siswa usia 15 tahun

Mayoritas siswa masih di bawah kompetensi dasar. Hasil PISA 2025 menunjukkan 60,9% siswa Indonesia berada di bawah Level 2 pada ketiga domain โ€” jauh di atas rata-rata OECD (19,7%). Dengan kata lain, 6 dari 10 siswa Indonesia belum menguasai kompetensi minimum yang diharapkan di usia 15 tahun, dan hanya 0,1% yang mencapai level sangat tinggi (Level 5/6), dibanding rata-rata OECD 11,9%.

Kesenjangan sosial-ekonomi relatif kecil, tapi mulai melebar. Hanya 8,6% variasi skor sains yang dijelaskan oleh kondisi sosial-ekonomi siswa (OECD: 11,6%) โ€” secara struktural ini kabar baik. Namun tren 2022โ€“2025 menunjukkan siswa dengan kondisi lebih baik naik 17 poin, sementara siswa dengan kondisi kurang beruntung hanya naik 2 poin, sehingga kesenjangan riilnya justru melebar.

Perempuan unggul di semua domain. Hal yang menarik dari capaian skor PISA 2025, dimana siswa perempuan menunjukkan capaian yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa laki-laki. Data tersebut menunjukkan pola yang konsisten di bidang sains, membaca, dan matematika. Temuan ini perlu dibaca secara proporsional. Keunggulan rata-rata capaian siswa perempuan dalam ketiga domain menunjukkan adanya pola kesenjangan capaian berdasarkan gender yang penting untuk dikaji lebih lanjut. Namun, perbedaan skor antarkelompok tidak serta-merta menunjukkan perbedaan kemampuan individual atau keunggulan bawaan salah satu gender. Oleh karena itu, analisis lanjutan diperlukan untuk memahami faktor-faktor yang berkaitan dengan kesenjangan tersebut, sekaligus merancang intervensi pembelajaran yang mampu mendukung peningkatan capaian baik siswa perempuan maupun laki-laki.


Sinyal motivasi belajar yang positif. Siswa Indonesia menunjukkan skor rasa ingin tahu, penetapan tujuan, dan pencarian bantuan yang lebih tinggi dari rata-rata OECD. Namun growth mindset โ€” keyakinan bahwa kemampuan bisa terus berkembang โ€” justru masih rendah (30,2% dibandingkan 69,3% OECD), satu hal yang layak jadi perhatian karena mindset ini berkaitan erat dengan ketahanan belajar jangka panjang.


Kepedulian lingkungan yang menonjol. Dari gambaran hasil PISA 2025 juga dapat difahami bahwa lebih dari 90% siswa Indonesia tertarik untuk berkontribusi pada perlindungan lingkungan lewat karier masa depan mereka โ€” jauh di atas rata-rata internasional yang berkisar 62%. Temuan ini merupakan modal penting bagi penguatan pendidikan lingkungan, pengembangan kompetensi berkelanjutan, dan pengenalan green career. Namun, tingginya aspirasi tersebut perlu diikuti dengan penguatan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan nyata agar kepedulian siswa dapat diwujudkan dalam tindakan dan pilihan karier yang berkelanjutan.

Titik Terang: Dukungan Guru dalam Sains Melonjak Tajam

Salah satu temuan paling menonjol datang dari tren jangka panjang: Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan peningkatan dukungan guru dalam pembelajaran sains terbesar sejak 2015, bersanding dengan Korea, Jepang, Kroasia, Slovakia, Thailand, dan Vietnam.

Indeks dukungan guru Indonesia melonjak dari -0,58 pada 2015 menjadi +0,47 pada 2025 โ€” kini bahkan melampaui rata-rata OECD (+0,14). Dukungan guru yang dimaksud mencakup perhatian terhadap pembelajaran siswa, umpan balik yang membangun, dan dorongan agar siswa terus berkembang. Dampaknya, menurut OECD, berkaitan langsung dengan ketertarikan siswa pada sains, rasa percaya diri, lingkungan belajar yang lebih positif, dan potensi peningkatan hasil belajar secara keseluruhan.

Gambar 3. PISA 2025, Dukungan guru dalam pembelajaran sains

Makna Peningkatan Dukungan Guru bagi Arah Kebijakan

Tiga temuan ini bila analisis bersama memberi arah yang cukup jelas: perbaikan sistemik sedang terjadi (skor naik, dukungan guru melonjak, motivasi belajar positif), namun demikian fondasi dasarnya masih rapuh dimana mayoritas siswa di bawah kompetensi dasar,


kesenjangan sosial-ekonomi mulai melebar, growth mindset rendah. Momentum capaian positif pada dukungan guru sains bisa menjadi model yang dapat direplikasi ke domain membaca dan matematika โ€” terutama karena matematika adalah satu-satunya domain yang justru mengalami penurunan pada siklus nilai PISA tahun 2025 tersebut.


Tiga temuan tersebut bila dibaca secara bersama memberikan arah yang cukup jelas: terdapat modal positif dalam sistem pembelajaran yang ditunjukkan oleh peningkatan skor, menguatnya dukungan guru, dan motivasi belajar yang relatif baik. Namun, modal tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi fondasi pembelajaran yang masih rapuh, ditandai oleh mayoritas siswa yang belum mencapai kompetensi dasar, kecenderungan melebar pada kesenjangan sosial-ekonomi, serta growth mindset yang masih rendah. Dengan demikian, tantangan kebijakan bukan semata-mata meningkatkan skor rata-rata, melainkan mengubah momentum positif tersebut menjadi penguatan kompetensi dasar yang lebih merata dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, peningkatan dukungan guru menjadi salah satu titik ungkit penting karena kualitas interaksi guru dengan siswa dapat mempengaruhi kemampuan siswa memahami kesulitan, menerima umpan balik, memperbaiki kesalahan, dan mempertahankan usaha dalam proses belajar.


Implikasinya, praktik dukungan guru yang menunjukkan hasil positif, khususnya pada domain sains, perlu dikaji untuk mengidentifikasi praktik pedagogis yang dapat diadaptasi pada membaca dan matematika, bukan sekadar direplikasi administratif. Pendekatan tersebut perlu disertai penguatan asesmen diagnostik dan remedial untuk siswa yang belum mencapai kompetensi dasar, dukungan yang lebih terarah bagi siswa dan sekolah dengan hambatan sosial-ekonomi lebih besar, serta integrasi growth mindset dan ketahanan belajar ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Perhatian khusus perlu diberikan pada matematika, sebagai satu-satunya domain yang mengalami penurunan pada siklus PISA 2025, dengan menelaah kembali kualitas pembelajaran konsep dasar, penalaran, dan pemecahan masalah. Dengan arah tersebut, peningkatan dukungan guru tidak berhenti sebagai temuan positif dalam PISA, tetapi menjadi pintu masuk bagi transformasi pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi dasar, pemerataan, dan ketahann belajar siswa dalam jangka panjang.

โ€”—————————————
Sumber data: OECD (2026), PISA 2025 Results (Volume I): Future-Ready Students.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *