Organisasi Perempuan dan Realitas yang Terlewat

Oleh: Esti Purnawinarni

Sering kali kita berbicara tentang perempuan dalam forum-forum besar: tentang pemberdayaan, kepemimpinan, kemandirian ekonomi, literasi digital, hingga peran strategis perempuan dalam pembangunan. Semua itu penting, bahkan sangat penting. Organisasi-organisasi perempuan pun telah banyak mengambil peran dalam membuka akses pendidikan, memperjuangkan hak-hak perempuan, mendorong kemandirian usaha, serta menghadirkan perempuan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Kiprah itu nyata, dampaknya terasa, dan relevansinya tidak perlu diragukan.
Namun di tengah berbagai capaian itu, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apakah perjuangan itu sudah benar-benar menyentuh kehidupan perempuan sehari-hari?

Kadang kita begitu sibuk membicarakan isu-isu besar, tetapi luput melihat beban-beban kecil yang justru paling nyata dirasakan perempuan. Kita bicara tentang peran perempuan di ruang publik, tetapi masih banyak perempuan yang setiap pagi harus berjuang menembus perjalanan panjang menuju tempat kerja, meninggalkan anak di rumah, memeras tenaga di ruang kerja, lalu pulang dengan rasa lelah yang tak selalu dipahami siapa pun. Kita bicara tentang pemberdayaan ekonomi, tetapi belum cukup banyak membicarakan bagaimana perempuan pekerja merasa aman di perjalanan, bagaimana ibu menyusui tetap bisa bekerja dengan tenang atau bagaimana sistem kerja benar-benar memahami beratnya peran ganda yang mereka emban.

Peristiwa kecelakaan KRL di Bekasi kemarin seolah membuka mata kita tentang realitas itu. Di antara para korban, banyak perempuan pekerja yang setiap hari berjuang demi keluarganya. Ada yang berangkat pagi-pagi sekali, ada yang meninggalkan ASI untuk bayinya, ada yang membawa harapan sederhana agar bisa pulang dengan selamat di sore hari. Namun takdir berkata lain.

Melihat deretan botol ASI dan tanda pengenal kerja milik para korban, hati siapa yang tidak tersentuh? Di balik benda-benda sederhana itu ada cerita perjuangan yang begitu besar tentang perempuan-perempuan yang bekerja bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk anak-anak dan keluarganya. Mereka menjalani dua perjuangan sekaligus: mendukung bahkan menyokong ekonomi keluarga, sekaligus tetap menjalankan peran pengasuhan.
Di titik inilah kita sadar bahwa persoalan perempuan bukan hanya soal kesempatan, tetapi juga soal keamanan, perlindungan, dan keberpihakan sistem terhadap perjuangan hidup mereka.

Ketika para ahli mengatakan bahwa tragedi seperti ini adalah persoalan sistem, maka kita harus melihat sistem itu secara utuh. Sistem bukan hanya soal moda transportasi, tetapi juga menyangkut kebijakan kerja, dukungan fasilitas, perlindungan sosial, hingga seberapa besar negara dan masyarakat memahami kehidupan nyata perempuan pekerja. Dan di sinilah organisasi perempuan seharusnya hadir lebih dekat.

Organisasi perempuan memiliki posisi yang sangat penting bukan hanya sebagai simbol perjuangan, tetapi sebagai suara yang membawa pengalaman nyata perempuan ke dalam kebijakan. Organisasi perempuan dapat mendorong perhatian yang lebih besar terhadap keselamatan perempuan pekerja, terhadap fasilitas bagi ibu menyusui, terhadap jam kerja yang manusiawi, terhadap transportasi yang aman, dan terhadap lingkungan kerja yang memahami bahwa perempuan tidak hanya datang sebagai tenaga kerja, tetapi juga membawa tanggung jawab kehidupan di rumah.

Organisasi perempuan berada pada posisi strategis sebagai mitra pemerintah dalam memastikan kebijakan pembangunan benar-benar berpihak pada kebutuhan nyata perempuan. Pemerintah memiliki kewenangan dalam merumuskan kebijakan dan menyediakan layanan publik, tetapi organisasi perempuan memiliki kedekatan dengan pengalaman riil yang dihadapi perempuan di lapangan. Dari kedekatan inilah lahir kekuatan advokasi yang mampu menjembatani antara kebijakan negara dan kebutuhan masyarakat. Sebagai mitra pemerintah, organisasi perempuan dapat menjadi penghubung antara suara perempuan akar rumput dengan proses pengambilan kebijakan. Mereka dapat menghadirkan masukan atas persoalan keselamatan transportasi bagi pekerja perempuan, mendorong penyediaan fasilitas ramah ibu di ruang publik dan tempat kerja, mengawal perlindungan sosial yang lebih responsif gender, hingga memastikan program-program pembangunan tidak berhenti pada angka statistik, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan perempuan dalam keseharian.

Selama ini, banyak organisasi perempuan telah bekerja keras dalam isu pemberdayaan ekonomi, UMKM, pendidikan, dan partisipasi politik. Semua itu adalah kerja penting yang patut dihargai. Tetapi perempuan juga membutuhkan perjuangan yang hadir dalam persoalan-persoalan sederhana namun sangat mendasar: perjalanan yang aman, ruang kerja yang ramah, perlindungan yang nyata, dan kebijakan yang memahami beban hidup mereka. Karena pada akhirnya, perempuan tidak hanya membutuhkan ruang untuk berkembang, tetapi juga sistem yang membuat mereka merasa aman untuk menjalani hidup.

Refleksi ini lahir dari keprihatinan yang sangat manusiawi. Sebab ketika melihat botol ASI para korban itu berjejer, kita tidak sedang melihat sekadar barang-barang yang tertinggal. Kita sedang melihat simbol cinta seorang ibu, simbol perjuangan seorang perempuan, dan simbol dari begitu besarnya pengorbanan yang sering kali berjalan tanpa cukup perlindungan.

Karena itu, harapan kita terhadap organisasi perempuan adalah agar terus menumbuhkan kepekaan yang makin dalam terhadap realitas kehidupan perempuan sehari-hari. Perjuangan perempuan akan terasa bermakna bukan hanya ketika disuarakan di dalam forum, namun juga ketika benar-benar hadir dalam tindakan nyata yang menyentuh kebutuhan dan memahami tantangan sehari-hari. Di tengah perjuangan banyak perempuan dalam keluarga dan masyarakat, organisasi perempuan diharapkan menjadi rumah perjuangan yang kuat dalam gagasan dan hangat dalam keberpihakan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *